Sore ini saya cuma ingin menikmati teh kotak sembari menerka-nerka kondisi sosio kultural indonesia andai di bawah naungan khilafah (ide yang hampir utopis). Tak ada ruang bagi hal lain, kecuali memberi kesempatan pada manusia-manusia dermawan untuk menumpuk amal. Berselang sepuluh menit sejak saya mulai memprediksi efek visi Taqiyuddin An Nabhani, masuk SMS permohonan bantuan menghabiskan pizza.
Pungguk merindukan bulan, tiga pan pizza dan semua toppingnya pakai paprika, PAPRIKA ? tiba-tiba saja cone dan rods mataku mengalami disfungsi dan hari ini rasanya makassar mendadak jadi mogadishu; di sekitarmu berseliweran manusia fatalis menggenggam AK 47, menodong lalu memaksa papilamu mengecap tekstur makanan ber-PAPRIKA. Rrrrr, saya lapar tapi nyatanya makanan ini tidak ber-pri-keseleraan. Pasrah mencapai titik kulminasi tertinggi, asam lambung menggerus dan kunyahan harus berjalan. "Traktiran memang kadang tak beretika, serupa nuansa momentum kontestasi politik, kita dituntut determinis dengan limit pilihan yang ditentukan."
Namun yakinlah ! salah satu anak kandung demokrasi -mobokrasi, meminjam istilah bang eep saefullah fatah- bisa menjarah pizza-pizza yang kau sukai dari tempatnya ? Seperti nasib coca-cola, tabung gas, dan hak azasi yang terjarah oleh milisi-milisi demokrasi tempo hari.

